Kenapa Mokacino?

Karena saya suka kopi, sesimple itu sih. Terlebih nama “mokacino[dot]com” sangat ramah terdengar di telinga dan mudah untuk di ucap. Namun saya punya cerita tersendiri dibalik mengudaranya nama ini.

Jadi begini ceritanya, waktu itu saya sedang sibuk skripsi dan sangat merasa kurang kerjaan karena tidak ada lagi mata kuliah. Aktifitas klasik saya hanya wara-wiri kampus dan warung kopi lalu pulang ke rumah. Begitu terus setiap hari. Saya merasa tidak lagi memiliki tantangan hidup (baca : masalah). Jadi merasa hidup saya kurang greget.

Akhirnya saya memutuskan membuat blog personal dengan platform wordpress.com (wp) dengan nama domain shemawahyudi[dot]wordpress[dot]com (ceritanya mau pakai nama samaran begitu, but failed). Karena kurangnya ilmu saya pada saat itu tentang dunia blogging, maka saya menjadikan blog ini sebagai blog gado-gado. Apapun yang mau dan rasakan saya tulis. Nggak muluk-muluk sama sekali.

Setelah jadi itu blog dan berhasil menelurkan beberapa artikel. Saya mulai kenal dengan beberapa blogger. Bukan, bukan hasil dari blogwalking tetapi dari expore Instagram. Sosial media yang multitasking itu masih tepat dijadikan sebagai sarana branding diri sendiri maupun blog si empunya, ketika Facebook dan Twitter mulai kering namanya.

Dari hasil selancar explore di instagram saya mulai kenal dengan Annisa Steviani, Grace Melia, Andra Alodita, Vicky Laurentina, Sekar Arum, Nyonya Malas dan lain sebagainya. Selain itu saya juga mengenal beberapa komunitas yang bannernya dengan bangga di pampang oleh para blogger dalam blognya, yaitu Blogger Perempuan Network (BPN), Komunitas Emak Blogger (KEB), Mom Blogger Community, Blogger Crony dan seterusnya.

Dari hasil selancar di explore pencarian instagram sehingga mempertemukan saya dengan beberapa blogger dan komunitasnya tidak hanya membuat saya senang karena menemukan ‘mainan baru’ tetapi juga galau karena ternyata nama domain mereka sebagus itu (receh).

Kemudian saya mulai berfikiran untuk mengubah nama domain menjadi sebagus mereka (but failed again). Otak rasanya freeze untuk memikirkan hal yang berbau kreatif untuk membuat nama domain. Alhasil pakailah nama sesuai dengan nama akun instagram saya [at]shishema.

Lalu tak lama terciptalah nama domain shishema[dot]wordpress[dot]com (sungguh receh). Pada saat saya membuka lembaran baru ceritanya lewat nama domain ini. Hadirlah tantangan One Day One Post (ODOP) oleh komunitas Blogger Perempuan Network. Sebagai seseorang yang menyukai tantangan saya ikuti tantangan itu. Tuntas? Tentu tidak. Karena  seperti mendadak begitu rasanya, jadi saya tidak siap. Walau menurut mereka “tulis saja apa yang mau kamu tulis” tapi nyatanya ungkapan itu tidak mudah.

Emosi yang tertuang dalam setiap artikel berbeda-beda sesuai mood-nya. Karena mengikuti ungkapan “tulis saja apa yang mau kamu tulis”. Saya sendiri menjadi aneh melihat tulisan saya dengan emosi tidak stabil seperti itu. Terlalu kentara untuk seorang ekspresif seperti saya. akhirnya saya memulai blogwalking yang sesungguhnya. Saya menemukan apa yang  ingin saya temukan pada proses itu. saya mengangguk mulai paham. Berwarnanya style blogger di luar sana memudahkan saya menemukan style saya sendiri. Seperti biasa saya selalu memakai strategi ATM (Amati Tiru Modifikasi).

Dalam proses saya mengikuti tantangan dari BPN itu saya mulai gatel ingin menggunakan self hosting. Entahlah, seperti menemukan gregetnya kembali. Setelah berdiskusi dengan suami, beliaupun akhirnya setuju saya membeli domain hosting. Setelah panjang lebar saya survey ke blogger lainnya dan tanya-tanya ke beberapa customer service provider penyedia layanan hosting seperti rumahweb dan dewaweb, dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk membeli domain hosting di dewaweb.

Saya mantap menggunakan provider tersebut karena kecekatan customer service nya dalam melayani customer 7 x 24 jam. Bagaimanapun yang sempurna akan kalah dengan yang selalu ada bukan? Buktikan aja sendiri kalian chat jam 2 atau 3 pagi. Pasti di balas (nggak lagi promo sih tapi menjilat).

Ketika klik di kolom ketersediaan nama domain, tiba-tiba aja ngetik nama kabarima. Konyol sekali. Ha!

Kabarima itu maksudnya “Kabar Ima”. Ima adalah nama panggilan saya di keluarga. Jadi saya mau pembaca selalu mengharapkan kabar dari saya (PD banget). Kembali galau dan berdiskusi dengan suami. Suami awalnya tetap suka dengan shishema tetapi setelah saya memberikan alasan yang logis (baca : doktrin) akhirnya beliau menyetujui perubahan nama shishema menjadi kabarima. Kemudian lahirlah kabarima[dot]com.

Penyakit perfeksionis ini kemudian muncul, astaga. Setelah saya memiliki domain dengan nama kabarima[dot]com tidak lantas membuat saya cukup. Awalnya saya ingin menyelesaikan tantangan  tersebut dengan nama domain baru saya. Namun kembali, tulisan saya jadi tidak stabil emosinya karena saya terburu-buru, tulisan saya jadi tidak bermakna dan tidak ada nyawanya. Ya.. hanya sekedar menulis saja begitu, tawar. Jatuhnya malah kebanyakan curhat.

Saya kembali blogwalking untuk belajar dan memahami kembali dunia per-blogging-an. Memahami apa itu niche apa itu personal blogger dan apa itu lifestyle blogger.

Sampailah  pada keputusan final menjadi lifestyle blogger dengan memegang prinsip ‘biar sedikit asal berkualitas’. Memang benar saya menyukai tantangan dan adrenalin saya jadi lebih terpacu ketika saya mengerjakan sesuatu dekat dengan deadline yang berakibat pada munculnya ide tidak terduga. Tapi hasilnya nihil, emosi dalam tulisan tidak stabil lah, terasa tidak ada nyawanya lah dan terasa tidak bermanfaat tulisan saya. saya malah sibuk mengotak-ngatik dasbor, bukan pada nilai tulisannya. Padahal seharusnya, bikin aja dulu tulisan yang bernilai baru otak-atik dasbor dan tema sambil jalan.

Dengan tekad bulat, bismillah. Akhirnya saya cek nama mokacino di ketersediaan nama domain di dewaweb. Binggo! Gayung bersambut. Dengan visi dan misi yang telah tertata dan sedikit banyak pengetahuan mengenai dunia blogging. Akhirnya saya membuat wajah baru yang in syaa Allah lebih stabil. Do’akan ya!